“ Mbak Indi, kamu beneran nggak apa-apa?” Suara Kania terdengar lagi begitu Indira kembali masuk ke restoran. Wajahnya tampak sedikit pucat, tapi senyum kecil berusaha ia paksakan. “Nggak, aku nggak apa-apa kok,” jawab Indira pelan, sambil menarik kursinya. “Cuma pengen duduk bentar, ngatur napas.” Vivi menatapnya khawatir. “Kamu keluar sebentar terus langsung pucat begini. Bumil harus hati-hati lho, jangan stres.” Indira hanya mengangguk sambil meraih gelas air putih. Tenggorokannya terasa kering. Setelah meneguk beberapa kali, ia menghela napas panjang dan mencoba menenangkan diri. Suara Indah dan ibunya masih bergema di kepala. Ia butuh sesuatu yang manis, sesuatu yang bisa menurunkan panas di dadanya. “Mbak, pesenin es krim ya,” katanya kepada pelayan yang baru lewat. “Rasa cokla

