Suasana pagi di mansion keluarga Adnan berjalan seperti biasa—hangat dan penuh cinta. Matahari menembus tirai kamar utama, memantulkan cahaya keemasan ke dinding dan menyentuh lembut wajah Indira yang tengah menyiapkan sarapan. Aroma kopi hitam dan roti panggang memenuhi udara, bercampur dengan suara tawa kecil Ian yang sedang berlarian di sekitar ruang makan sambil memakai seragam taman bermainnya. “Papa, cepat! Ian mau baleng Papa ke mobil!” serunya, memegang tas kecil bergambar dinosaurus. Adnan yang baru turun dari lantai atas tersenyum melihat pemandangan itu. Ia tampak rapi dengan kemeja biru muda dan jas abu-abu muda. Sudah seminggu penuh ia bekerja dari rumah sejak acara aqiqah Alyana, dan hari ini—dengan berat hati—ia harus kembali ke kantor. “Papa antar kamu sampai depan sekol

