Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya di mansion Adnan. Hujan tak lagi turun, tapi udara dingin masih menggantung di antara pepohonan taman. Di ruang keluarga, lampu hanya dinyalakan setengah. Indira duduk di sofa dengan tangan saling menggenggam, sementara Adnan berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan sorot mata penuh perhitungan. Regan berdiri di sisi lain ruangan bersama dua ajudan. “Kita sudah petakan semua kemungkinan tempat persembunyiannya,” ujar Regan pelan. “Tapi dia nggak akan keluar kalau hanya kita yang bergerak.” Adnan mengangguk perlahan. “Karena itu aku butuh dia terpancing.” Indira menoleh cepat. “Maksud Mas?” Adnan berjalan mendekat, lalu duduk di hadapan istrinya. Tangannya meraih jemari Indira, menggenggamnya lembut namun penuh keteguhan. “Dia cemburu
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


