Bab 154. Extra Part 5

1309 Words

Langit Jakarta sore itu mendung. Awan kelabu menggantung rendah, seolah ikut menampung kecemasan yang perlahan merayap di hati Indira. Sejak kejadian di taman kota, ia tak lagi bisa merasa benar-benar tenang. Senyum Alyana dan tawa Ian masih sama cerianya, tapi di balik itu, ada rasa waswas yang tak bisa ia singkirkan. Di ruang keluarga mansion, Indira duduk di sofa sambil memeluk bantal kecil. Tatapannya kosong, sesekali melirik ke arah jendela besar yang menghadap taman depan. Adnan keluar dari ruang kerja dengan ponsel di tangan. Wajahnya terlihat tegang, rahangnya mengeras. Ia mendekati istrinya, lalu duduk di sampingnya. “Regan sudah kirim laporan awal,” ucapnya pelan. Indira menoleh cepat. “Gimana, Mas?” “Belum ada jejak jelas. Pricilla itu pintar. Dia nggak pakai satu pola

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD