“Mandi bareng yuk, Om!” Kepala Justin terangkat, tangannya membetulkan kacamata yang sedikit turun. Saat ini ia sedang menyelesaikan pekerjaan, tapi tiba-tiba saja Zena mengajaknya mandi bareng. Memang sih, Justin belum mandi, tapi apa harus mandi bareng? Ditatap lekat oleh Justin Zena menaik-naikkan alisnya. Bukannya bergegas masuk ke dalam kamar mandi, Zena mendekati Justin yang sedang menatapnya. Diambilnya laptop dari pangkuan pria itu, digantikan dengan dirinya yang duduk dipangkuan Justin. Kedua tangan Zena melingkar di leher Justin, jarak wajah keduanya sangatlah dekat. Sekali mereka maju, ceritanya akan berbeda. “Om masih ngga mau, nih?” Percayalah, di bawah sana milik Justin sudah bereaksi. Apalagi posisi duduk Zena yang tak bisa diam. Justin menggeram, ia mencengkram pinggang

