“Om Justin, tunggu!” Langkah kaki Justin terhenti, tubuh tegap pria itu kembali berputar ke belakang. Ia hapal dan tahu itu suara siapa. Setelah tubuhnya berputar sempurna, di depan sana Justin melihat Zena berlari ke arahnya. Justin tersenyum tipis, wanita itu benar-benar taka da takutnya dengan William. “Ada apa, Zena?” tanya Justin, ketika Zena sudah berdiri dihadapannya. Sesaat Zena terdiam. Sungguh, ia masih kefikiran dengan perintah ayahnya tadi. perintah yang diperuntukan untuk Justin seorang. Zena ingin ikut, ingin mendampingi. Bukan apa-apa, ia hanya takut ada keributan seperti kemarin lagi. Kemarin dipisahkan saja Justin babak belur, apalagi dia datang sendiri? Melihat Zena terdiam Justin maju satu langkah. Baru tangannya ingin terangkat menyentuh wajah Zena, tetapi mata Just

