“Kamu…” William menggantung kata-katanya, begitupun dengan tangan yang sudah melayang di udara. Namun belum sempat mengenai pipi putrinya, tangan William refleks terkepal, matanya terpejam sesaat. Zena yang sejak di luar tadi sudah siap terkena makian, memejamkan mata saat melihat tangan Ayahnya melayang ke arah pipinya. Namun beberapa detik Zena menunggu, tidak ada rasa sakit apapun. walaupun begitu Zena masih memejamkan mata sambil meremas ujung baju yang ia kenakan. “Apa maksud kamu bohongin Ayah lagi? Buat apa kamu bermalam ditempat pria b******k itu?! Memang kamu ngga punya rumah, Alzena?! Ayah benar-benar ngga ngerti sama jalan fikiran kamu, sungguh. Kenapa kamu jadi murahan seperti ini? Di mana harga diri kamu? Semalam Ayah kasih kamu kepercayaan, tapi lagi-lagi kamu bohong! Bisa

