Sudah tiga hari berlalu. Tiga hari juga Zena menangkan diri dengan cara tidak keluar rumah dan tidak bertemu siapapun selain keluarganya. Selama tiga hari juga Zena mematikan ponsel setelah dia meminta izin soal kerjaan. Dan hari ini, Zena kembali memulai hari dengan kepala cukup pusing. Tiga hari berdiam diri, Zena memang menghabiskan waktu untuk menangis dan merenung. Puncaknya semalam. Saking frustasinya ia sampai memecahkan gelas yang tak bersalah.
“Oke, Zena, udah cukup lo gilanya. Hari ini lo harus kembali normal, harus kerja kembali, dan yang penting harus atur strategi,” ucap Zena di depan cermin. Dia sudah mandi, sudah rapih, tetapi mata bengkaknya tidak bisa dibohongi. Entahlah, mungkin nanti pas pemotretan dia akan terkena teguran.
Ponsel kembali zena nyalahkan. Wanita itu duduk di tepi ranjang. Setelah ponsel menyala, banyak sekali notifikasi. Bukan hanya kerjaan, tetapi dari Gerald. Pria itu sampai ratusan kali menelepon dan mengirimnya pesan. Selain Geraldy, ada juga Revinka. Kemarin keduanya juga sempat datang, tetapi Zena tidak menemui.
Tidak memperdulikan notifikasi itu, Zena memilih membalas pesan yang berbau dengan pekerjaan. Setelah membalas, wanita itu berdiri, mengambil tas, lalu memasukkan. Tak lupa Zena mengambil kunci mobil, setelah itu keluar dari kamar. Sambil berlari kecil Zena menuruni anak tangga.
“Mau ke mana kamu?”
Langkah Zena terhenti tepat di anak tangga terakhir. Wanita itu menoleh, menatap Liana yang sudah bersedekap d**a. Jari telunjuk Zena menunjuk dirinya sendiri. “Aku? Mama nanya aku?”
Liana menghela napas. Ingin sekali dia menjambak rambut anaknya saat ini. “Memang ada siapa lagi di sini selain kamu? Ada orang lain? Kan ngga ada, Alzena. Masa iya Mama tanya Deniel? Dia udah berangkat ke rumah sakit.”
Mendengar jawaban sang mama yang kesal Zena terkekeh. Zena mendekat, mengecup pipi Liana. “Kalau gitu aku juga mau kerja, Mama.”
“Masih ingat kerja dan dunia luar kamu? Setelah tiga hari mengurung diri seperti orang hilang arah?” Sebelah alis Liana terangkat menatap Zena.
Zena mendengus. Kalau saja tidak ingat dengan tanggung jawab, dirinya masih ingin pacarana dengan kasur. Tapi sayang, Zena masih ingat kontrak kerja.
“Diantar Gerald?” tanya Liana.
“Aku ngga sudi diantar dia.”
Satu pukulan mendarat di lengan Zena. “Kamu ini bicara apa sih? Kalau dia selingkuh, ngga mungkin sejak kemarin datang nyariin kamu terus.”
Kedua bahu Zena mendelik. “Formalitas. Yaudahlah, aku berangkat dulu. Kalau misalnya dia ke sini lagi, bilang aja aku masih ngga mau ketemu sama dia.”
Setelah mengatakan itu Zena meninggalkan Liana. Dia juga tak menunggu apa jawaban mamahnya. Di halaman, Zena langsung masuk ke dalam mobil. Melihat majikannya mau ke luar, penjaga rumah langsung membuka gerbang.
“Terima kasih, Pak.”
“Sama-sama, Non.”
Mobil Zena keluar, pergi meninggalkan rumah. Selama diperjalanan menuju tempat pemotretan Zena hanya diam sambil mendengarkan musik. Suara ponsel yang berdering tak membuat Zena melirik. Karena tanpa perlu dicari tahu, Zena sudah tahu siapa yang menelepon. Memang siapa lagi kalau bukan Geraldy?
“Aku pastiin akan dapat semua bukti kebusukan kamu, Ger,” guman Zena.
***
“Matamu bengkak gini, Zen? Habis nangis?”
Zena menatap sang make up artis dari pantulan cermin. Tanpa ragu dia menganggukan kepalanya. “Hidupku lagi berantakan banget, rasanya Cuma pengen nangis terus. Entah lagi ketiban sial apa.”
“Berantem sama pacar? Biasanya ke sini sama Gerald, kok tumben sendirian sekarang?” tanyanya lagi.
“Tenggelam dia di laut,” jawab Zena asal.
Wanita di samping Zena tertawa. Ada-ada saja memang jawabannya. Sambil kembali mengobrol, kedua make up artis itu mencoba mengakali agar mata Zena tidak terlalu sembab. Tentu agar di kamera tidak kelihatan.
“Zena, Zena, Zena. Ke mana aja kamu? Udah puas liburannya?”
Dari pantulan cermin Zena menatap pria di belakangnya. Pria itu adalah fotografer yang akan memotret dirinya. Zena menghela napas. “Mana ada liburan, sih? Aku lagi galau, bukan liburan, Ernes.”
Pria bernama Ernes itu mendekati Zena, dia memperhatikan wajah calon modelnya. Hari ini Zena terlihat tidak bersemangat, dan yang paling kelihatan, matanya sangat sembab. Kedua mata Ernes memicing, jari telunjuknya menoel pundak Zena membuat wanita itu menoleh.
“Mata kenapa mata? Kok bisa begini, sih? Kamu itu mau pemotretan buat iklan, Zen.”
Terjadi juga apa yang Zena takutkan sejak diperjalanan tadi.
“Tenang aja, sebisa mungkin kita cover pakai make up,” balas salah satu sang make up artis.
Mendengar itu Zena tersenyum. Wanita itu mengacungkan jempolnya. “Dengar, ‘kan? Semua akan beres, ngga perlu takut.”
Ernes menghela napas. “Sepuluh menit lagi kita mulai, cepat, jangan lama-lama.”
“Iya, bawel,” jawab Zena.
Setelah make up selesai, Zena menatap dirinya di cermin. Memang sih sembabnya menjadi berkurang, tetapi mata sayunya tidak bisa bohong. Tetapi Zena mencoba menyemangati dirinya sendiri. Pasalnya setelah ini, dia ada urusan penting.
“Zena, set!”
Zena terkesikap. Buru-buru dia berdiri, lalu menuju set. Di sana sudah ramai orang. Zena jadi tidak enak karena terlalu lama. Karena waktu sudah mepet, pemotretan segera dimulai. Pemotretan kali ini untuk iklan di sosial media. Selain itu ada juga untuk iklan di televisi.
Walaupun hati sedang galau, sebisa mungkin Zena bekerja dengan baik. Berkali-kali dia berpose mengikuti arahan. Karena sudah terbiasa di depan kamera, Zena sama sekali tidak gugup. Dia hanya gugup saat membuat video memperkenalkan suatu produk.
Sekitar satu jam menjalani pemotretan, Zena diperkenankan untuk istirahat. Wanita itu dengan santai duduk di kursi sambil memainkan ponselnya. Iseng, dia membaca semua pesan yang Geraldy kirim. Terakhir pria itu mengirim pesan katanya mau datang ke lokasi. Sial, pasti mamahnya yang memberitahu. Zena tidak membalas, dia menghiraukan pesan tersebut.
Beberapa menit berlalu. Sebuah pesan kembali masuk ke dalam ponselnya.
Chat from : Geraldy Zavian.
Geraldy Zavian : ‘Zen, kayaknya aku ngga bisa ke lokasi kamu. Aku ada meeting. Tapi sore ini kamu bisa ke apartemen aku? Kita perlu ngobrol sebentar.’
Geraldy Zavian : ‘Kamu tunggu di sana aja sambil istirahat. Oke?”
Alzena Jasmine : “Oke.”
Geraldy Zavian : ‘See you, Zen.’
Read.
Senyum Zena mengembang. Kini otaknya semakin liar memikirkan langkah selanjutnya. Dan ya, Zena sudah tahu mau melakukan apa. Sedang asik-asiknya berfikir, Zena dipanggil oleh Ernes. Dengan cepat wanita itu menghampiri. Tidak lain tidak bukan pasti mau melihat hasil.
“Oke ngga, Zen? Kamu emang the best, ngga perlu arahan atau take berulang-ulang. Pertahankan. Semakin kamu berkembang, semakin banyak brand dan perusahaan yang melirik kamu,” kata Ernes dengan bangga. Selama bekerja dengan Zena memang dia selalu puas dengan wanita itu. puas dalam artian Zena selalu totalitas.
Zena mengangguk-anggukan kepalanya. Dia menatap video dirinya di layar monitor. Setelahnya video itu akan dikirim ke editor untuk dinilai kelayakannya. Sejauh ini Zena puas dengan penampilan dirinya sendiri.
“Udah selesai, ‘kan? Kalau gitu aku duluan ya,” pamit Zena yang langsung diangguki oleh Ernes.
Sebelum pergi Zena ke ruang ganti untuk mengganti pakaian. Setelah itu dia mengambil tas, kunci mobil, lalu pergi dari studio. Zena masuk ke dalam mobil, tak lupa dia menyalahkan musik. Musik menyalah, barulah Zena menyalahkan mesin mobil.
“Mari kita mulai permainan ini, Gerald. Kita liat, siapa yang akan menang.”
***