“Gue…”
Revinka menatap Zena, dia menunggu apa yang akan sahabatnya katakan. Biasanya sih tidak jauh-jauh dari Geraldy. Selama Zena terdiam, Revinka masih dengan sabar menunggu. Sedangkan Zena, sebetulnya dia ingin sekali memaki bahkan menampar wajah sahabatnya itu. Namun sebisa mungkin Zena menahan, alhasil dia mengepalkan kedua tangannya.
“Zen?” tegur Revinka. Satu tangannya menyentuh lengan Zena yang terkepal di atas pangkuan. “Lo kenapa sih? Kenapa pulang-pulang jadi aneh begini? Masalah sama Gerald? Iya? Kenapa dia? Dia ngapain lo?” sambungnya.
Seulas senyuman muncul di bibir Zena. Wanita itu menggelengkan kepalanya sambil perlahan melepaskan kepalan di tangannya. “Gapapa, gue sama dia baik-baik aja kok. Hubungan kita baik, kerjaan gue di Tokyo kemarin juga lancar. Cuma gue lagi capek aja sekarang, tadi tiba-tiba Gerald datang ngajakin ke rumahnya ketemu tante Emma.”
“Bahas apa kalian?”
“Soal pernikahan.”
Kali ini gantian Revinka yang terdiam. Membahas soal pernikahan? Pernikahan Geraldy dengan Zena? Melihat Revinka terdiam Zena tersenyum miring. Pasti wanita itu tidak suka mendengar kabar ‘pernikahan’ yang ia bagi. Bagaimana mau suka kalau dia telah kepincut dengan Geraldy. Zena masih menatap gerak-gerik Revinka yang terlihat tidak nyaman.
“Kenapa, Rev?” Sebelah alis Zena terangkat menatap Revinka.
Lamunan Revinka buyar, wanita itu menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Gapapa, Cuma lagi mikir aja. Kalau kalian udah nikah, kita masih temanan dan bisa main, ‘kan?”
“Kenapa bisa lo nanya begitu? Pertemanan sama pernikahan ngga ada urusannya. Masa iya kalau nikah harus putus temanan? Eh, tapi tergantung deh. Gue ngga bisa menjamin. Oh, iya, lo ke sini ada urusan penting apa? Gue pengen tidur, Rev, soalnya nanti sore gue ada meeting sama atasan.”
“Kalau boleh tau, apa jadinya keputusan kalian? Kapan kalian mau nikah? Tapi, bukannya belum tunangan?”
Zena mendelikkan kedua bahunya. Melihat itu tentu Revinka bingung. Apa maksud dari mendelikkan bahu itu? Berbeda dengan Revinka yang sedang menebak-nebak, sedangkan Zena sudah menguap. Ya walaupun itu hanya bohongan agar Revinka pulang dan pergi dari hadapannya.
“Iih, jawab yang benar dong, Zen. Kalian mau tunangan dalam waktu dekat?” tanya Revinka lagi.
“Kalau iya kenapa? Apa ada yang keberatan?”
Seketika Revinka gelagapan. Wanita itu menggelengkan kepala, tertawa kecil. “Ya mana mungkin ada yang keberatan sih, Zen? Kalian udah pacarana delapan tahun, emang udah waktunya menuju jenjang yang serius. Kal—”
“Baguslah kalau ngga ada yang keberatan,” potong Zena dengan cepat. “Yaudah, Rev, bahas nanti lagi aja. Sumpah, gue pengen tidur banget. Semalam gue tidur pagi,” lanjutnya. Zena berdiri, tanpa mengatakan apa-apa lagi wanita itu meninggalkan Revinka sendirian di ruang tamu.
Kepergian Zena tidak Revinka tahan. Dia membiarkan sahabatnya pergi, namun isi kepalanya sangat penuh sekarang. Revinka menatap punggung Zena yang mulai menjauh dan naik ke lantai atas. Geraldy benar, sikap Zena berubah. Ini tidak seperti yang Revinka kenal. Karena biasanya, secapek apapun Zena, pasti dia akan excited menceritakan soal pekerjaannya. Bahkan mengajaknya untuk ngobrol di kamar. Sedangkan ini? Dia pergi tanpa pamit.
***
Soal meeting hanyalah omong kosong. Karena pada kenyataannya, sore ini Zena sangat free. Setelah tadi menemui Revinka, wanita itu menghabiskan waktu di kamar hanya untuk menangis. Demi apapun dia tidak bisa lagi menahan air matanya. Bahkan sampai jam enam, Zena masih menangis. Dia tidak memperdulikan pintu kamarnya yang terus diketuk oleh sang mama.
Saat ingin ke kamar mandi, ketukan pintu kembali terdengar. Kali ini Zena mendekat, lalu membuka kunci pintu kamar. Saat pintu terbuka, Zena langsung berhadapan dengan Liana yang sudah berdecak pinggang. Sumpah, Zena sudah tidak ada energi lagi untuk meladeni Mamahnya.
“Kamu ini habis ngapain aja, sih? Kenapa daritadi pintunya ngga dibuka? Kenapa telepon Mama ngga diangkat? Ngga mungkin kamu tidur sepulas itu, Alzena,” ujar Liana, menatap sengit putrinya.
Akan tetapi, kesengitan Liana berangsur hilang ketika dia melihat wajah muram Zena. Selain itu, kedua mata anaknya sangatlah bengkak. Liana mendekat, memegang kedua bahu Zena. “Kamu kenapa, Zen? Mata kamu bengkak banget, habis nangis? Kamu berantem sama Gerald?”
“Apapun yang aku ceritain sekarang Mama ngga akan percaya kok, aku jamin itu,” jawab Zena.
“Kenapa kamu bisa mikir begitu? Coba cerita sama Mama, ada apa kamu sama Gerald. Bukannya tadi kamu habis dari rumahnya?”
Zena mundur, dia kembali masuk ke dalam kamar lalu duduk di tepi ranjang. Liana ikut masuk, dia berdiri menghadap anaknya yang sedang menunduk memperhatikan kedua kakinya. Kalau dilihat dari gerak-gerik sih sepertinya memang ada masalah. Tetapi masalahnya apa, Liana belum mengetahui dengan pasti.
“Aku ngga bisa lanjut sama Gerald sepertinya, Mah.”
Kedua mata Liana membulat. “Maksud kamu gimana? Kok tiba-tiba begini? Masalah apa yang udah terjadi sampai kamu mau mundur begini? Zen, kalian berpacaran udah lama, masa iya sekalinya berantem langsung main putus? Kamu ngga ingat kalau sebelum-sebelumnya kamu yang selalu minta dikasih kepastian? Kenapa sekarang ngga bisa lanjut? Ada apa?”
Mendengar jawaban panjang lebar sang mama semakin membuat Zena yakin. Apapun yang dia ceritakan pasti tidak akan diterima oleh Liana. Zena memijat keningnya yang berdenyut. Sungguh, kepalanya sangat sakit karena nangis berjam-jam. Seharusnya Zena tidak boleh menangis karena besok dia ada pemotretan. Bisa diomeli habis-habisan kalau matanya bengkak.
Zena kembali menyeka air mata yang menetes tanpa perintah. “Kalau aku bilang dia selingkuh, apa Mama percaya sama aku?”
“Haha, mana mungkin?” Liana memukul pelan lengan Zena. Selingkuh? Mana mungkin calon menantu yang selama ini dia kenal baik selingkuh?
Sesuai dengan dugaan Zena. Pasalnya bukti Zena belum kuat, dia hanya ada rekaman saat Geraldy menerima telepon dari Revinka. Sedangkan kejadian di apartemen kemarin malam, Zena tidak rekam saking kagetnya. Kepala Zena terangkat, menatap Liana lekat.
“Jangan nuduh sembarangan kamu, Zena. Dia sama kamu udah lama, udah mau tunangan, masa iya sejahat iu sampai selingkuh? Mama rasa ngga mungkin, kamu salah paham.”
“Aku emang belum punya bukti kuat buat yakinin Mama. Tapi sialnya aku lihat sendiri. Tapi gapapa kalau Mama ngga percaya, aku akan cari bukti sampai semuanya terkumpul. Aku akan buktikan ke Mama dan semuanya kalau Gerald ngga sebaik yang kalian fikirkan,” jawab Zena dengan sungguh-sungguh. Zena kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur, matanya menatap lurus ke atas.
Tentu Liana tidak semudah itu percaya pada omomgan Zena. Apalagi anaknya itu tidak ada bukti. Karena tidak percaya, Liana mengalihkan pembicaraan. Wanita itu menepuk paha Zena. “Mandi, habis itu turun ke bawah kita makan malam. Jangan sampai pas ayah pulang kamu belum ada di meja makan.”
“Aku ngga mood makan, Mah. Kalian aja yang makan, aku nyusul aja nanti.”
Lagi, pukulan mendarat di paha mulus Zena. Pukulan itu membuat Zena meringis. “Ngga ada nyusul, harus makan bersama. Selagi kamu ada di rumah, wajib hukumnya makan bersama. Bukannya itu peraturan dari ayah? Udahlah, ngga usah mikir yang aneh-aneh, ngga usah berasumsi. Kalau kalian berantem, ya selesaikan baik-baik, jangan saling tuduh. Udah, pokoknya mandi sekarang.”
Liana menarik kedua tangan Zena, mau tidak mau wanita itu terduduk kembali. Zena menatap melas sang mama, namun Liana tidak memperdulikan itu.
“Percaya sama Mama, Gerald tidak selingkuh.” Liana menoel hidung Zena.
‘Tapi dia udah tidur sama wanita lain,' batin Zena.
***