Bab 32. Penolakan

1304 Words

Sudah sejak sepuluh menit yang lalu Zena mondar-mandir di depan pintu. Bukan menunggu tukang jajan lewat, melainkan wanita itu menunggu kedatangan Justin. Tadi, beberapa menit yang lalu, Justin bilang sudah diperjalanan, sudah dekat. Maka dari itu Zena berinisiatif untuk menunggunya di depan. Perasaan Zena benar-benar tidak menentu sekarang. Takut, panik, gugup, semua jadi satu. Sumpah, sampai detik ini Zena belum terbayangkan Justin akan bicara seperti apa dihadapan orang tuanya. Saking gugupnya Zena, ia sampai berfikir untuk membatalkan rencana malam ini. Persetan dengan Justin yang hampir sampai, yang jelas Zena belum siap. Lagipula Zena benar-benar merasa bodoh. Kok bisa ia memberi saran agar pria itu datang malam ini juga. Satu tangan Zena melingkar di perut, sedangkan tangan satuny

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD