“APA? HAMIL? REVINKA?!” Cellin meringis mendengar pekikan Zena. Entah sahabatnya itu kaget karena apa, Cellin tidak bisa menebak. Awalnya Cellin mengira kalau reaksi pertama Zena akan tertawa terbahak-bahak. Tapi ini tidak, Zena terlihat sangat kaget. “Cell?” “Dia cerita sendiri sama gue, Zen. Masa iya masalah kayak gini dia bohong sama gue? Dia cerita sambil nangis, minta gue hubungin lo. Lo ingat yang gue teleponin lo berkali-kali? Itu dia lagi sama gue.” Kening Zena mengerut. “Minta hubungin gue? Bua tapa hubungin gue? Apa hubungannya juga sama gue? Tapi seriusan dia hamil? Sama….” Kali ini Cellin yang terdiam. Sama siapa lagi kalau bukan Geraldy? Tapi untuk Cellin menyebut nama itu, rasanya sangat sungkan. Alhasil Cellin hanya menatap Zena yang terdiam sambil menatap ke arah balko

