“Alzena,”panggil Justin, menarik lengan Zena yang hendak meraih gagang pintu. Lengan wanita itu ditarik, dibawa tubuhnya menempel pada dinding. Zena yang tidak siap dengan tindakan itu hampir saja terhuyung andai kata tidak ditahan oleh tangan Justin. Jarak wajah keduanya kini sangat dekat. Saking dekatnya, baik Zena ataupun Justin bisa melihat pori-pori wajah sang lawan bicara. Kening Zena mengerut menatap Justin. Kali ini apa lagi yang ingin pria itu sampaikan? “Memang ada hal mendesak apa sampai kamu harus pulang? Jujur, saya ngga ikhlas perbolehin kamu pulang. Saya masih mau kamu ada di sini,” ujar Justin. Tangan pria itu terangkat, membelai pipi Zena yang mulus. Justin tidak lebay atau melebih-lebihkan, paras Zena memang sangat sempurna di matanya. Tubuh Zena merinding. Selain kare

