Justin memajukan tubuhnya ke arah Zena. Seketika wanita itu menahan napas karena wajahnya dengan Justin sangatlah dekat. Refleks, kedua tangan Zena menahan d**a Justin. Tindakan Justin yang dihentikan, membuat pria itu menaikkan sebelah alisnya.
“Om mau ngapain?”
“Emang kamu berharap saya mau ngapain?” Justin bertanya balik dengan senyum di bibirnya. “Kamu berharap kita melakukannya di sini?” lanjut pria itu dengan santai.
“Om gila, ya? Aku rasa Om beneran gila sekarang. Aku ngga ngenalin om Justin yang dulu, yang sekarang benar-benar berubah. Dan aku ngga tau perubahan itu sejak kapan.”
Alih-alih langsung menjawab, Justin kembali memasang sabuk pengaman milik Zena yang tertunda. Setelah memastikan wanita itu aman, barulah dia kembali duduk di tempat semula dengan tegap. Walaupun begitu, Justin masih memandangi wajah Zena yang terlihat kebingungan. Soal kebingungan Justin mewajarkan itu. karena sejak dulu, rasa Sukanya ia pendam sendiri. Tapi … bukankah cinta harus diperjuangkan walaupun ada resikonya?
“Dulu Om ngga begini. Jangankan nyentuh, ngobrol aja jarang walaupun sering ketemu.” Zena kembali berujar. Demi apapun, dia masih tidak habis fikir. Dan apa yang dia sampaikan barusan memang isi hatinya sejak kemarin.
Lagi dan lagi Justin menyunyingkan senyumannya. “Kalau saya bilang, saya suka dan cinta sama kamu gimana? Saya mau milikin kamu.”
Kedua mata Zena membulat. Dia benar-benar tidak menyangka dengan jawaban Justin. Suka? Bahkan cinta? Tapi sejak kapan? Masih dengan kerutan di keningnya Zena menatap lamat wajah Justin. Dia mencoba menelisik, mencari raut bercanda di wajah tegas itu. Tapi sial, tidak ada.
“Om ngaco, ya? Mana bisa dan mana mungkin?”
Sebelum menjawab Justin menyalahkan mesin mobil, lalu mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Emma. Bukan tidak bisa menjawab, hanya saja Justin malas menjelaskan untuk sekarang. Tapi kalau tidak dijawab, sepertinya wanita itu akan terus mencecar. Sekilas Justin menatap Zena. Hanya beberapa detik, karena detik selanjutnya dia kembali fokus menyetir.
“Kenapa ngga bisa dan ngga mungkin? Karna kamu pacarnya Geraldy? Sayangnya itu bukan halangan buat hati saya menyukai kamu. Saya suka sama kamu semenjak pertama kali kita bertemu. Dan saya senang sama jawaban kamu tadi.”
“Jawaban?”
Justin menganggukan kepalanya. “Soal kamu yang masih ingin memikirkan tentang pernikahan. Itu artinya saya masih punya kesempatan.”
Sumpah, Zena benar-benar dibuat tidak mengerti dengan Justin. Zena jadi membayangkan. Semisal ia lepas dari Geraldy, masa iya jatuh ke Pamannya? Bukannya itu ide buruk? Jelas sangat buruk! Zena menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tidak lagi membahas apapun, Zena memilih menatap lurus ke depan. Isi kepalanya sangat penuh sekarang, banyak sekali yang harus dibahas. Tetapi Zena tidak tahu mau memulai dari mana. memikirkan cara untuk mencari bukti perselingkuhan kekasihnya saja belum, ini ditambah keanehan Justin yang mengaku cinta padanya. Dunia ini sudah gila kah?
“Apa kamu ada yang mau ditanyain ke saya? Kebetulan saya punya banyak informasi. Terutama soal Gerald.”
Zena kembali menoleh. “Sebenarnya apa sih yang Om tahu soal Gerald?”
“Udah saya bilang. Cukup banyak. Tapi ya tadi, semua ngga gratis.”
Dikira Zena semurahan itukah? Mana mungkin ia mau menukar informasi dengan dirinya. Walaupun akan sulit, lebih baik Zena mencari cara sendiri. Zena mendelikkan kedua bahunya, kali ini dia benar-benar acuh.
Selama di perjalanan Zena hanya diam. Otaknya kembali memutar memori dirinya bersama Geraldy. Delapan tahun bersama, pantaskah dia disakiti seperti ini? Dan yang lebih menyakitkan, pria itu masih tetap ingin menikahi dirinya. Apa dia berniat mempunyai dua istri? Sungguh, Zena tidak mengerti sama jalan fikiran sang kekasih. Sakit? Jangan ditanya. Jelas hatinya sangat sakit. Saking sakitnya, Zena tidak bisa mengeluarkan air mata. Anggaplah dia masih syok.
‘Aku itu sayang sama kamu. Cuma kamu, ngga ada yang lain.’
Kata-kata itu … Zena tersenyum getir. Ternyata itu hanya kata pemanis. Ini kah yang dinamakan sakit hati tertunda?
Tanpa sadar dan tanpa perintah air mata Zena menetes. Apalagi saat kilatan momen bahagianya bersama Geraldy terputar. Sesak sekali hatinya, dia benar-benar tidak menyangka dengan ini semua.
Mendengar tawa getir dari wanita di sampingnya Justin menoleh. Pas sekali di lampu merah jadi dia bisa leluasa menatap Zena. “Kamu kenapa?”
“Sakit hati.” Zena menghapus air mata yang membasahi pipinya. Ia tidak bohong, saat ini memang sedang sakit hati.
Satu tangan Justin terulur meraih tangan Zena. “Coba cerita sama saya apa yang kamu ketahui. Mana tau saya bisa bantu kamu buat selesaikan.”
“Ngga perlu, aku bisa handle sendiri.” Zena menarik tangannya dari genggaman Justin.
“Padahal saya pendengar yang baik loh,” kata Justin.
Tidak menghiraukan, Zena hanya diam sambil memejamkan matanya. Untuk saat ini Zena tidak butuh bantuan siapapun karena dia sedang dalam kondisi tidak percaya siapa-siapa lagi. Setelah kekasih dan sahabatnya berkhianat, Zena menjadi trust issue.
Sekitar satu jam diperjalanan, mobil Justin sampai di depan rumah Zena. Tanpa mengatakan apapun Zena membuka sabuk pengaman, lalu berniat ingin langsung turun. Tapi sial, pintu masih terkunci. Zena menatap Justin, dan ia yakin kalau Justin mengerti maksudnya.
“Kenapa sih buru-buru banget?”
“Buka, Om.”
Tangan Justin terulur, menghapus jejak-jejak air mata yang masih ada di pipi Zena. “Kalau kamu tau sesuatu, kasih tau saya. Saya siap membantu. Wanita seperti kamu ngga pantas nangis seperti ini, Zena.”
“Buka, Om.” Zena kembali berujar dengan kata-kata yang sama. Dia tidak memperdulikan perkataan Justin barusan.
“Sekali lagi, saya akan siap bantu jika kamu butuh bantuan.” Justin membelai pipi Zena dengan lembut. Setelah itu, barulah ia membuka kunci pintu mobil.
Tanpa mengucapkan terima kasih Zena buru-buru keluar. Dia berlari masuk ke dalam rumah saat gerbang terbuka. Melihat tingkah Zena yang menggemaskan Justin tersenyum. Sejenak pria itu bersandar. Justin jadi menebak-nebak, apakah Zena sudah tahu soal kelakuan Geraldy di belakangnya? Karena kalau tidak, mana mungkin dia mau menunda pernikahannya. Pernikahan yang sejak dulu dia natikan. Ini sedikit aneh, dan Justin curiga itu.
Akan tetapi, kalaupun memang seperti itu kenyataannya, itu berita yang sangat bagus. Setelah berfikir beberapa menit, Justin pergi meninggalkan rumah Zena.
Sedangkan di dalam rumah, Zena dibuat terdiam karena dia mendapati sosok Revinka. Wanita itu dengan wajah riang berlari ke arahnya. Refleks kedua tangan Zena terkepal kuat, wajahnya menegang tanpa ada senyum sedikitpun.
“Yaampun, Zen, lo ke mana aja sih? Kok dihubungi ngga bisa daritadi? Kata nyokap lo sampai tadi malam? Bukannya … hari ini?” tanya Revinka masih dengan keexcited-annya.
Dengan wajah datar Zena menjawab, “mau kapanpun gue pulang, masalahnya sama lo apa? Emang kalau gue pulang mendadak bikin lo kaget atau ngga nyaman?”
“Eh? Engga, bukan begitu. Kalau tau lo pulang semalam, gue bisa jemput di bandara. Ini lo habis dari mana?”
Cih! Bisa-bisanya dia masih bertanya. Padahal tadi jelas Geraldy sudah memberitahu. Tanpa menjawab Zena meninggalkan Revinka, lalu dia duduk di sofa dengan satu kaki terangkat. Zena menatap lekat wajah Revinka. Dari banyaknya teman, hanya Revinka yang sejak dulu selalu ada untuknya. Bahkan dia selalu jadi penasihat disaat hubungannya dengan Geraldy memburuk. Tapi … kenapa dia sejahat itu menikamnya?
Diperhatikan lekat oleh Zena kening Revinka mengerut. “Lo kenapa, Zen? Ada masalah sama kerjaan? Atau … Geraldy?”
“Gue….”
***