“Gimana? Diangkat sama dia, Rev?” Revinka menggelengkan kepalanya. Lima kali mencoba, lima kali juga usahanya sia-sia. Tak ada satupun panggilan yang dijawab oleh Zena. Sebetulnya Revinka tidak ingin menghubungi karena dia sudah tahu endingnya. Tapi karena terus dipaksa oleh Geraldy, mau tidak mau wanita itu manut. Ditaruhnya ponsel ke atas meja, lalu Revinka menghampiri Geraldy. Dari belakang, wanita itu memeluk dengan erat. “Aku tau ini bukan situasi mudah buat kamu, Ger. Tapi semua udah terjadi, kamu ngga bisa apa-apa. Aku juga ngga sangka kalau Zena akan pasang CCTV di sini. Tapi, Ger, di sini masih ada aku. Aku ngga ke mana-mana.” Kepala Geraldy pusing. Pria itu memijat keningnya yang berdenyut tanpa membalas pelukan Revinka. “Kalau memang pada akhirnya dia pergi, kamu masih punya

