"Ayna, ayo kita makan duluan. Biarin nanti Varrel belakangan. Mungkin dia masih ada kerjaan, Na." Ayna menoleh ke belakang, kepalanya menggeleng menolak ajakan Pradipta. Sebelumnya Salwa sudah membujuk, tapi Ayna tetap ingin menunggu suaminya agar bisa makan malam bersama. Hembusan napas Ayna terdengar, Pradipta hanya menggelengkan kepalanya. Ternyata istrinya benar, Ayna tidak mudah dibujuk. "Kamu udah coba telepon?" "Tadi jam lima udah, Yah. Terus dia bilang masih di kantor, jam enam pasti udah sampai rumah janjinya. Tapi daritadi aku chat ngga dibalas lagi," jawab Ayna sambil menatap ke arah luar kembali. Saat ini Ayna sedang berdiri di depan pintu utama menatap lurus halaman. Hari sudah berganti gelap, tapi mobil suaminya belum juga datang. Jika biasanya Ayna tidak terlalu khawatir

