“Iya, Maaas... enggak papa kan? Boleh ya, Maaas... pleaseee?” pinta Laura manja, menatap suaminya dengan wajah melas seperti anak kecil. Suaranya lembut tapi mengandung desakan halus, membuat hati Gavin bergetar. “Iya, Pah, enggak papa ya, Paah? Sekali ini aja, Paah... boleh yaaa?” timpal Sagara dengan semangat, ikut memohon sambil menatap ayahnya penuh harap. Gavin menghela napas panjang, lalu menghembuskannya kasar. Pandangannya berpindah dari wajah Laura ke Sagara, dan kembali lagi ke Laura yang kini menatapnya dengan mata memohon. “Aduh, dua-duanya kompak banget kalau udah kayak gini... gimana coba gue bisa nolak,” batinnya pasrah. “Ya udah, kalau mau tidur di sini... tidur aja!” katanya akhirnya, sedikit sewot, lalu buru-buru berbaring di ranjang, berusaha menyembunyikan rasa

