Sinta menoleh ke arah Alesha dengan mata membelalak. “A-alesha… kita nggak mimpi, kan?” “Lo… di tempatkan jadi sekretaris sementara Pak Kenzo?” “Iya, Alesha… ini serius?” sambung Nita gugup. Alesha sendiri terpaku. Wajahnya kosong, lalu refleks ia menepuk pipinya pelan—sekali, dua kali. “Ini… mimpi?” gumamnya lirih. Saat kesadarannya benar-benar kembali, senyum perlahan merekah di wajahnya. Matanya berbinar. “Terima kasih, Mamah Resti…” ucapnya dalam hati. “Hari ini… Mamah Resti benar-benar jadi penyelamat hidup Alesha.” Namun dari samping, Selly menatapnya dengan sorot mata tajam dan penuh dengki. "Kurang ajar. Siapa sebenarnya anak magang ini? Sepenting apa dia sampai Ibu Resti turun tangan sendiri? Seharusnya posisi itu milikku…" Selly mengepalkan tangannya. “Aku nggak bol

