Beberapa jam kemudian, begitu sampai di rumah… JEBREEEETTT!!! Suara pintu depan dibanting keras. Laura masuk dengan wajah sembab, air mata masih mengalir deras di pipinya. Tanpa menoleh ke mana pun, ia langsung berlari naik menuju kamarnya. “Sayang, Laura… kamu kenapa?” Angel yang saat itu sedang membantu Mbok Ijah memasak di dapur terlonjak panik melihat putrinya. “Mbok, Mbok Ijah lanjutkan masaknya, ya. Saya naik dulu ke atas, susul Laura.” Ucap Angel terburu-buru, langsung meletakkan sendok kayu yang dipegangnya, lalu berlari menaiki tangga. Tok! Tok! Tok! Angel mengetuk pintu kamar Laura dengan cemas. “Sayaaang… Laura… buka pintunya. Ada apa, Sayang? Kamu kenapa?” tanyanya penuh panik. Suaranya bergetar, gugup, sekaligus diliputi rasa khawatir. Namun tak ada jawaban. Da

