BAB 88

1762 Words

Angel menahan tangisnya yang kian pecah. Di tengah rasa putus asa dan bingung harus berbuat apa, ia akhirnya mendekati dokter dengan langkah goyah. Matanya memerah, penuh dengan rasa khawatir. “Dok... bagaimana kalau Laura dipindahkan saja ke rumah sakit tempat saya bekerja?” suaranya bergetar. “Di sana... di sana pasti ada fasilitas yang lebih baik. Mungkin peluang Laura bisa lebih besar.” Semua yang mendengar pernyataan itu langsung menoleh ke arahnya, termasuk Alex, Andra, Shintia, dan bahkan Luna. Suasana semakin tegang. Andra melangkah cepat mendekatinya. Matanya yang tajam menunjukkan campuran rasa khawatir dan ketegasan. “Angel, kamu nggak serius, kan?” suaranya bergetar. “Keadaan Laura sekarang kritis! Dia nggak mungkin dipindah-pindahkan. Itu berisiko besar, Angel!” Angel, y

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD