DI DEPAN TERAS RUMAH PAK EDO Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu teras menyala temaram, menyinari wajah-wajah yang dipenuhi emosi perpisahan. “Mah… Renata sama Bang Diki pamit, ya.” Suara Renata bergetar. Matanya berkaca-kaca, senyumnya dipaksakan. Tangis Ibu Lia justru semakin pecah. Sejak tadi ia tak berhenti menangis, bahunya bergetar hebat. “Hiks… hiks… Sayang… jadi kamu beneran mau ninggalin Mamah?” ucapnya lirih, seolah tak siap menerima kenyataan. Renata segera mendekat, menggenggam tangan ibunya erat. “Maaah… Renata nggak ninggalin Mamah,” ucapnya lembut, menahan tangisnya sendiri. “Kita masih bisa ketemu kapan saja, Mah. Renata cuma ikut Bang Diki… bukan pergi selamanya.” Namun air mata Ibu Lia tetap jatuh. “Hiks… hiks…” “Sudah, Mah,” sela Pak Edo denga

