Sementara di dalam kamar… Renata berdiri terpaku, kedua tangannya memeluk perut yang terasa semakin nyeri. Air mata jatuh tanpa bisa ia cegah. Bukan hanya karena rasa sakit di tubuhnya— melainkan karena hatinya baru saja hancur… sekali lagi. “Aw… ssttt…” “Aduh… sakit banget…” Suara Renata lirih, bergetar. Tubuhnya sedikit membungkuk menahan perih yang menusuk-nusuk dari dalam perutnya. “Hiks… hiks…” “Bang Diki bener-bener jahat sama Renata…” Air matanya makin deras. “Renata salah apa sih, Bang… sampai Abang tega berbuat kasar kayak gini sama Re—” Belum sempat kalimat itu selesai— “Ya ampun, Kak Renata!” Pintu kamar terbuka tergesa. Siska yang baru saja pulang dari luar, masuk dengan wajah panik dan napas memburu. “Ada apa ini, Kak? Kenapa Kak Renata berantem sama Bang Diki?

