Kembali lagi pada Gavin dan Laura... Setelah keduanya sama-sama tertidur, tiba-tiba Laura terusik dari lelapnya. Dengan perlahan ia membuka mata, lalu bangkit sambil menghela napas lega. “Alhamdulillaaah... akhirnya, perutku sekarang udah nggak sakit lagi,” ucapnya pelan, tersenyum tipis begitu menyadari rasa perih yang tadi mendera kini benar-benar hilang. Namun senyumnya seketika menghilang. “Eeeh, tapi tunggu dulu...” bisiknya gugup. “M_Mas Gavin? Mas Gavin mana, ya...” Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, matanya langsung membulat, lalu tersenyum haru. Di sana, tepat di sampingnya, Gavin tertidur pulas. Kepalanya sedikit terkulai, wajahnya tampak lelah, sementara satu tangannya masih tergeletak di atas perut Laura—seolah tak rela melepasnya sedetik pun. Sepertinya ia ikut

