MASIH DI KANTOR GAVIN Beberapa jam kemudian… Jarum jam dinding sudah menunjuk pukul 7 malam. Setelah hampir seharian penuh Laura menemani Gavin bekerja, akhirnya Gavin keluar dari ruangannya, mengajaknya pulang. Mereka baru saja melangkah keluar, namun tiba-tiba langkah Laura terhenti. “Aw… sssstttt! Aduh, Maaas… aduuuh, sakit! Sakit banget, Maaas!” suara Laura mendesah lirih, tubuhnya langsung membungkuk sambil menahan perut. Gavin sontak panik, ekspresinya berubah drastis. “S-Sayang?! Kamu kenapa?!” Ia buru-buru meraih bahu istrinya, menopangnya agar tidak jatuh. “P-perut Laura… aw, ssssttt... sakit banget, Mas! Aduh, aduh, nggak kuat… sakiiit banget!” rintih Laura, napasnya tersengal, wajahnya pucat pasi. Gavin langsung kalang kabut, memeluk istrinya erat. “Ya Tuhan, Laura…

