DI PERJALANAN Mobil melaju pelan di jalanan sore yang mulai padat. Di balik kemudi, Renata terlihat tidak fokus. Tatapannya kosong, seolah pikirannya tertinggal di tempat lain—di seseorang yang belakangan ini membuat hatinya penuh tanya. “Kira-kira tadi Bang Diki lagi teleponan sama siapa yah? Emang segitu pentingnya yah orang itu buat Bang Diki, sampai-sampai Bang Diki enggak mau angkat telepon dari gue, tapi malah justru teleponan sama itu orang?” batinnya bergema, membuat dadanya terasa sesak. Ia menggigit bibir bawahnya, gelisah. “Apa jangan-jangan Bang Diki sengaja… enggak mau angkat telepon dari gue karena dia mau menghindar? Takut gue minta tanggung jawab kalau sampai nanti gue hamil?” Hatinya mencelos memikirkan kemungkinan itu. Beberapa detik, ia menarik napas dalam lalu men

