DI RUMAH RENATA. Jam di ruang tamu menunjukkan pukul 09:00 pagi ketika Renata perlahan membuka pintu rumah. Tubuhnya masih letih, rambut sedikit berantakan, dan langkahnya pelan… sangat pelan—seakan setiap suara yang tercipta bisa menjadi bencana. Di kepalanya hanya ada satu doa: “Semoga papah udah ke kantor… semoga papah udah pergi…” Tangannya menggenggam tas erat, dan dengan hati-hati ia menyelinap masuk, hampir menahan napas. “Aduuuh... kira-kira jam segini papah udah berangkat ke kantor apa belum ya...?” batinnya panik. Ia berjalan seperti pencuri yang takut ketahuan, menempel ke dinding agar lantai kayu rumahnya tidak berdecit. “Kalau papah sampai tau semalam gue nginep di rumah Bang Diki, habis gue. Habis! Aduuuuh gue harus bilang apa—” Namun langkahnya terhenti. Bu

