Dokter Tia menarik napas dalam sebelum membuka suara. Wajahnya tampak penuh penyesalan. “Saya, selaku pemilik rumah sakit ini… benar-benar meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada Pak Gavin, dan terutama kepada Ibu Laura.” Suaranya berat, nyaris bergetar. “Ada kesalahan besar yang terjadi di pihak kami. Hasil lab Laura beberapa waktu lalu… ternyata tertukar dengan hasil pasien lain.” Hening. Kata-kata itu seketika menghantam Gavin dan Laura. Mereka berdua membeku di kursinya—mata terbelalak, napas tercekat, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja terdengar. “A-apa?!” suara Laura pecah, gemetar. “J-jadi… sebenarnya saya ini… tidak sakit, Dok?” Tanyanya dengan terbata-bata, matanya mulai berkaca-kaca, tangannya mencengkeram lengan Gavin erat-erat. “Iya, Dok,” Gavin ikut menimpa

