“Iya, Mas… kanker,” jawab Cindy sambil terisak. “Kanker otak stadium akhir.” “Dan dokter sudah memvonis… usia hidup aku paling lama tinggal satu tahun lagi.” Kata-kata itu menggantung di udara, menghantam siapa pun yang mendengarnya. “Itu sebabnya dulu aku pergi tanpa alasan,” lanjut Cindy lirih. “Aku nggak mau penyakit aku ini malah menyusahkan Mas.” “Waktu aku ninggalin Mas… hati aku juga hancur. Sama hancurnya kayak hati Mas.” “Aku nggak pernah bisa move on dari Mas.” “Karena meskipun aku berbohong, meskipun aku mengaku-ngaku sebagai cinta masa kecil Mas…” “Perasaan aku ke Mas nggak pernah bohong.” “Aku masih cinta, Mas… sampai sekarang.” Tangisnya semakin pecah. “Mungkin semua ini memang sudah jadi takdir aku,” katanya pasrah. “Takdir untuk mengagumi Mas… dari kejauhan.”

