Di sekolah Tania baru saja tiba. Ia turun dari taksi dengan langkah lesu, bahunya sedikit merosot, wajahnya tanpa semangat. Semakin hari rasanya semakin berat—kepalanya masih dipenuhi ucapan kasar Bara pagi tadi yang terus terngiang, menilai penampilannya, menusuk harga dirinya. Rara, Nita, dan Kely yang sudah lebih dulu sampai langsung menghampirinya. “Tania, serius?” Rara mengangkat alis. “Lo berangkat naik taksi?” Kely ikut menimpali sambil tertawa kecil, “Lah, sopir pribadi lo ke mana? Cuti?” Tania hanya mendesah panjang. Bukannya menjawab, ia malah tampak makin murung. “Tau!” katanya singkat, nada suaranya ketus. Nita justru tersenyum tipis, matanya meneliti ekspresi Tania. “Tan… lo kenapa sih akhir-akhir ini?” tanyanya lembut. “Bawaannya bete terus. Diajak nonton nolak. Dia

