“I-iya, Kak!” Siska mencoba menegaskan, terlihat gugup namun yakin. “Kalau nggak salah, kalung itu memang punya Alana. Yang sempat hilang sepuluh tahun lalu.” Ia mendekat, menunjuk liontin itu dengan jemari gemetar. “Dan Kak Sagara… kalau kakak masih ragu, coba buka liontinnya. Di dalamnya ada foto Alana waktu kecil… sama Almarhum mamahnya.” Suaranya lembut, meyakinkan—jatuh perlahan seperti tetesan air yang membangunkan sesuatu di hati Sagara. Sagara tersentak. Untuk sesaat ia tak mampu bergerak. “J-jadi… foto gadis kecil yang selalu gue simpan ini… foto Alana? Sama… mamahnya?” Kalimat itu hanya terlintas di kepalanya, tidak berani ia ucapkan lantang. Dadanya menghentak, seolah perasaannya sedang dipaksa membuka luka lama dan kenyataan baru dalam satu waktu. “Kak Sag

