SEASON 3 // Bab 44

2020 Words

Satu jam kemudian… DI RUMAH DIKI. Di kamar Siska, suasana terasa menyesakkan. Alana terbaring lemas di atas ranjang kecil itu—wajahnya pucat, bibirnya kering, tubuhnya menggigil seolah kedinginan menembus tulang. Napasnya berat, tersengal-sengal. Demamnya semakin tinggi dari menit ke menit. Tiba-tiba bibirnya bergerak, suara lirih pecah dari tenggorokannya. “Ssssssttttt… dingiiin…?? Ssstttt maaaah… sssttttt Alana kangen sama mamaaaah…?? Sssttt Mama di mana maaah…?? Sssttt peluk Alana maaah… sssttttt dingiiiiiin…” Siska menahan napas. Matanya memerah, panik. Ia memegang dahi Alana yang menyala panas seperti bara. “Ya ampun, kak Diki… badan Alana makin panas, kak…! Terus dari semalam Alana ngigo terus kayak gini…!” Suaranya gemetar. “Kak Diki udah telepon kak Sagara belum?? Sur

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD