“Enggak mungkin putri saya meninggal, Dok! Enggak mungkin!” Alex tiba-tiba membentak. Matanya merah, suaranya bergetar di antara amarah dan ketakutan. “Maaf, Pak, Bu,” jawab sang dokter hati-hati, “keadaan putri Bapak memang sudah dinyatakan meninggal. Detak jantung yang masih terlihat itu... hanya reaksi dari alat medis. Jadi... sebaiknya alat bantu itu segera dilepas, agar beliau tidak terus tersiksa.” Kata-kata itu seperti belati yang menembus d**a Gavin. Ia langsung terduduk lemas di lantai, menatap kosong ke arah Laura yang kini terbaring tanpa daya. Angel masih pingsan di pelukan suster. Sementara tangisan semakin memenuhi ruangan. “A-apa yang Dokter bilang?” Gavin memekik. “Enggak! Jangan pernah kalian lepas alat itu! Laura masih hidup! Dengar aku—istri aku masih hid

