Tangis itu memecah keheningan koridor rumah sakit yang sepi. Langkah Gavin terhuyung, napasnya berat, dan di pelukannya, bayi mungil itu menangis semakin keras—seolah ikut merasakan guncangan jiwa ayahnya. Air mata Gavin jatuh satu per satu, menetes di pipi lembut bayinya. “Sayang... Nak…” suaranya parau, hampir tak terdengar di antara isaknya. “Papah mohon... tolong bangunin Mamah, ya? Cuma kamu satu-satunya harapan Papah sekarang...” Langkahnya terus melangkah, tanpa arah, tanpa peduli. Yang ia tahu, hanya satu: Ia harus membawa bayi itu menemui Laura—sebelum semua benar-benar berakhir. Karena dalam hatinya, Gavin percaya… Ikatan batin antara seorang ibu dan anak adalah keajaiban yang bahkan maut pun tak bisa sepenuhnya memisahkan. Ketika ia menerobos pintu ruang rawat,

