“Rara… kamu kenapa? Kok diam?” tanya Alif pelan. Rara semakin panik. “Aduh… mati, deh!” batinnya. “A-apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku harus ngomong apa sama Mas Alif…?” Belum sempat ia menyelesaikan pikirannya— “Rara, kamu kenapa? Kamu nggak apa-apa, kan? Dari tadi kamu diam saja.” Alif yang mulai merasa aneh akhirnya melepaskan pelukannya. Begitu tubuhnya terlepas, Rara langsung mundur satu langkah. Wajahnya masih merah padam. “M-Mas Alif jangan pernah, ya… ngelakuin kayak gini lagi sama Rara!” ucapnya tiba-tiba dengan nada kesal. Alif mengernyit bingung. “Maksudnya?” “Iya! Mas Alif jangan pernah ngelakuin kayak gini lagi sama Rara!” ulangnya, kali ini lebih tegas. Alif semakin tidak mengerti. “Yang mana?” Rara menggigit bibirnya, lalu menunjuk ke arah

