“Tania nggak mau,” jawab Tania dingin, nyaris tanpa ekspresi. Ia lalu menoleh ke arah Bara, tatapannya tajam. “Mas Bara masih punya tangan, kan?” tanyanya sinis. Bara refleks mengangkat satu tangannya, alisnya berkerut. “Ini,” jawabnya singkat, bingung sekaligus kaku. “Nah, kan,” Tania mendengus. “Mas Bara jelas bisa ambil makanan sendiri. Kenapa harus nyuruh Tania ambilin makanannya?” protesnya dengan nada kesal yang tak lagi ia sembunyikan. Alesha menghela napas panjang. “Bara itu suamimu, sayang,” ucapnya lembut namun tegas. “Kamu harus mulai belajar jadi istri yang menghormati dan membantu suaminya.” Tania menoleh cepat ke arah ibunya. Dadanya naik turun menahan emosi. “Mah, Tania selama ini sudah berusaha jadi istri yang baik,” ujarnya lirih tapi menusuk. “Mas Bara

