Di kantor Pak Arga, pertemuan bisnis akhirnya resmi berakhir. Pintu ruang meeting terbuka, dan satu per satu peserta keluar—Bara, Sely, Pak Jaya, serta beberapa rekan bisnis lainnya. Sely langsung melangkah mendekati Bara, wajahnya berbinar. “Bar, temani aku nonton film, yuk. Lagi ada film romantis yang baru tayang,” ajaknya ringan, seolah tak ada beban apa pun di antara mereka. Bara menghela napas pelan. Kepalanya masih dipenuhi bayangan Tania yang pergi entah ke mana—tatapan terluka itu, kata-kata yang menusuk lebih dalam daripada amarah. “Lain kali aja, Sel. Aku lagi nggak enak badan,” tolaknya dingin. Namun Sely tak menyerah. Ia terus membujuk, merayu dengan nada manja, hingga Bara akhirnya mengalah. Bukan karena ingin, tapi karena terlalu lelah untuk berdebat—dan mungkin, terlal

