DI KANTOR RAKA. Waktu menunjukkan pukul 10.00 pagi. “Enggak, Anindya! Sampai kapan pun Kakak enggak akan pernah mau menemui Mamah di rumah sakit!” bentak Raka dengan nada tajam. Suaranya menggema di halaman kantornya yang luas. Sejak pagi, adiknya itu terus mencoba membujuknya agar mau menjenguk Ibu Siska, mamah mereka, yang sejak semalam kembali dilarikan ke rumah sakit. Namun, Raka tetap bergeming. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Amarah dan luka lama yang belum sembuh terlihat jelas dari sorot matanya. “Pak Tiko, jalan!” perintahnya datar namun tegas. “Baik, Pak.” Pak Tiko segera membuka pintu mobil untuknya, lalu melajukan kendaraan keluar dari halaman kantor dengan hati-hati. “Kak Raka! Kaaaak!” teriak Anindya, berlari kecil mengejar mobil yang mulai melaju. Suaranya p

