Sementara itu… Di Rumah Pak Yudha… Darrel melangkah masuk ke rumah besar itu dengan langkah tenang. Suasana terasa sunyi—terlalu sunyi untuk rumah semegah ini. Ia memang jarang pulang. Apartemen lebih sering menjadi tempatnya beristirahat. Selain lebih dekat ke kantor, tempat itu juga satu gedung dengan Rangga, sehingga ia tak membutuhkan sopir ataupun banyak formalitas. Rumah ini terlalu penuh kenangan. Dan terlalu penuh harapan orang lain. “Anak Mama akhirnya pulang juga!” Suara Sekar memecah kesunyian. Wanita itu berjalan cepat menghampiri Darrel dan langsung memeluknya erat. Pelukan yang hangat, penuh rindu, penuh kekhawatiran yang tak pernah benar-benar hilang. Darrel membalas pelukan itu seperlunya. “Mama… kenapa minta aku pulang?” tanyanya begitu Sekar melepaskan diri. “Ran

