Alih-alih menjawab, Angel justru langsung mengalihkan pandangannya sambil menghela napas berat. Tanpa sepatah kata pun, ia kemudian berdiri dan berjalan keluar menuju balkon rumah sakit, meninggalkan ruangan. Alex terdiam, menatap pintu yang tertutup di belakang Angel. Hatinya terasa sakit melihat respons dingin Angel, meskipun ia tahu betul bahwa ia pantas mendapatkannya. Ia memandang bungkusan makanan yang masih tergenggam di tangannya, mencoba menyembunyikan rasa kecewanya di balik senyuman kecil. Ia menatap Laura yang kini menatapnya balik dengan senyum lemah. Tanpa banyak bicara, Alex menghampiri ranjang putrinya, meletakkan bungkus makanan di meja kecil, lalu membuka bubur yang ia beli untuk Laura. “Kamu harus makan, Sayang. Biar cepat sembuh,” katanya lembut sambil duduk di tepi

