DI RUMAH ALEX. Jarum jam menunjuk pukul 10.00 pagi. Laura duduk sendirian di ruang tamu dengan wajah muram. Tatapannya kosong, seakan pikirannya penuh oleh rasa cemas dan putus asa. Sejak tadi ia hanya terdiam, tenggelam dalam bayangan tentang masa depannya yang semakin terasa suram. Hari ini ia sengaja tidak masuk kuliah. Bukan karena malas, melainkan karena ia ingin menghindari Gavin. Laura tahu, jika ia nekat muncul di kampus, Gavin—suaminya sendiri—pasti akan langsung mendekat untuk menuntut pembicaraan tentang rumah tangga mereka yang semakin retak. Dan Laura belum siap. Hatinya masih rapuh, pikirannya kacau. Selain itu, ada alasan lain yang membuatnya memilih berdiam di rumah. Pagi ini, ia sudah membuat janji dengan Dokter Irvan. Konsultasi penting tentang penyakitnya tidak b

