“Iya… bener.” “Perempuan itu bener-bener mirip Cindy,” batin Kenzo, napasnya terasa semakin pendek. Bukan hanya mirip. Ia yakin. Pasti Cindy. Cindy—cinta masa kecilnya. Perempuan yang dua tahun lalu pergi begitu saja, menghilang tanpa kabar, tanpa alasan, tanpa perpisahan yang layak. Kenzo menelan ludah. Tangannya gemetar saat akhirnya membuka pintu mobil. “Alesha, kamu tunggu di sini dulu, ya,” katanya tiba-tiba, nadanya tegas namun tergesa. Alesha menoleh cepat. “Tunggu di sini? Emang Mas mau ke mana?” “Itu…” Kenzo menunjuk samar ke depan. “Mas mau ke sana dulu. Sebentar.” “K-ke sana?” Alesha semakin bingung. “Ngapain, Mas?” Kenzo menghela napas, jelas tak sabar. “Aduh, Alesha… kamu nggak usah banyak tanya.” Ia menatapnya singkat. “Pokoknya Mas mau ke sana dulu.” Lalu, d

