“Kamu… serius, Sayang?” suara Alif melemah, tak lagi sekeras tadi—namun justru terasa lebih dalam. “Dengan semua yang kamu ucapkan ini…?” Ia menatap Rara lekat, seolah berharap semua itu hanya mimpi buruk. “Kamu benar-benar… mau kita cerai?” Hening. Lalu— “Nggak!” Suara Alif kembali meninggi, kali ini lebih tegas… lebih keras. “Sampai kapan pun… Mas nggak akan pernah menceraikan kamu!” Tatapannya tajam, penuh penolakan. “Nggak! Nggak akan pernah!” ulangnya, seakan menegaskan pada dirinya sendiri. “Ngerti, kamu?!” Namun— Rara justru menatapnya tanpa gentar, meski air matanya terus jatuh. “Terserah, Mas… mau menceraikan Rara atau nggak,” balasnya, suaranya lebih tinggi. “Tapi yang jelas—Rara tetap mau berpisah dari Mas.” Tegas. Tanpa ragu. Tanpa celah. A

