DI SEKOLAH Pukul 11.30 siang. Suasana kantin ramai seperti biasa—dipenuhi tawa, obrolan, dan suara sendok yang beradu dengan piring. “Eh, guys… lihat deh!” seru salah satu siswi tiba-tiba, matanya membesar ke arah pintu masuk. Teman-temannya ikut menoleh. Seorang pria berdiri di sana. Rapi. Tenang. Tapi… wajahnya tampak gelisah—seolah sedang mencari sesuatu. “Eh… itu bukan suaminya Rara… yang katanya ustaz itu?” bisik salah satu dari mereka, setengah tak percaya. “Iya… iya! Bener!” sahut yang lain cepat. “Tapi… ngapain dia ke sini?” “Bukannya Rara hari ini nggak masuk sekolah, ya?” Mereka saling pandang, bingung. “Iya, kan dia izin…” gumam yang lain. “Terus… suaminya ke sini buat apa?” Rasa penasaran mulai menjalar di antara mereka. Sementara itu— dari kejauhan, seorang wan

