“Laura, kamu kenapa? Kok diem aja?” tanya Gavin heran, sambil mencoba menunduk melihat wajahnya. “Ya ampun, mati gue. Gue harus ngomong apa, nih?” Laura masih menjerit-jerit dalam hati, panik sendiri. Dan sebelum ia sempat menyusun kata, Gavin malah melepaskan pelukan itu. “Laura, kamu nggak apa-apa, kan? Dari tadi diem aja, bikin Mas bingung.” “J_Jangan pernah, ya! Jangan pernah Mas Gavin lakuin ini lagi sama Laura!” ucap Laura tiba-tiba, dengan suara tinggi dan wajah merah padam. “M-Maksudnya?” Gavin mengernyit, benar-benar bingung. “Ya yang barusan Mas Gavin lakuin sama Laura!” sahutnya cepat, sambil menunduk. Gavin makin heran. “Apa maksud kamu? Pelukan?” “Bukan Cuma pelukan! Mas Gavin sengaja, kan? Cari-cari kesempatan supaya Laura mau dipeluk, mau dicium-cium juga sama

