DI RUMAH GAVIN Waktu menunjukkan pukul dua siang. Di ruang tamu yang rapi dan terang oleh cahaya matahari, Laura duduk dengan penampilan yang sudah tertata sempurna—gaun pastel lembut, rambut tertata rapi, wajahnya cantik alami seperti biasa. Namun dari tatapan matanya, jelas ada keresahan yang ia sembunyikan. Ia sedang menunggu taksi yang ia pesan untuk menjemput Sagara di sekolah. Tapi belum juga kendaraan itu datang, suara pintu pagar terbuka terdengar. Dari arah halaman, tampak Gavin baru pulang dari kantor—masih mengenakan kemeja formal, wajahnya sedikit lelah, tapi senyumnya tenang seperti biasa. Ia sengaja pulang lebih awal hari ini. Di kepalanya, ia tahu betul: Laura pasti marah padanya. Apalagi setelah kejadian Sagara di sekolah pagi tadi. Dan benar saja—begitu mata Laur

