“Rara benar-benar masih nggak ngerti.” Rara menggeleng pelan sambil tersenyum sinis, jelas tak percaya dengan cara berpikir suaminya. “Kok bisa ada, sih, orang yang berpikiran seperti Mas?” Ia mendengus kesal. “Orang-orang jahat seperti mereka malah didiamkan begitu saja.” Nada suaranya penuh kejengkelan. Namun seperti sebelumnya, Alif hanya menanggapinya dengan senyum tipis. Ia menghela napas pelan, lalu membuangnya perlahan. Tangannya kembali fokus memegang kemudi, menatap lurus ke jalan di depan. Seolah ucapan Rara tak mengusik ketenangannya sedikit pun. Mobil terus melaju. Tiba-tiba— CIIITTT! Rem mobil diinjak mendadak. “Y-ya ampun!” Rara menjerit kaget. Tubuhnya terdorong ke depan hingga dahinya terbentur dashboard. “M-Mas Aliiiif!” Ia langsung menata

