Pagi pun tiba. Jam dinding di ruang makan menunjukkan pukul 07.00 pagi. Di meja makan yang panjang, Tasya sudah duduk bersama Ibu Nani. Wajah gadis itu terlihat kesal sejak tadi, seolah masih memikirkan kejadian semalam. “Mamah… Rara itu benar-benar menyebalkan,” keluh Tasya sambil memainkan sendok di tangannya. Ibu Nani mengangkat alisnya. “Baru kali ini lho, Mah,” lanjut Tasya dengan nada tidak terima, “ada orang di rumah ini yang berani menentang perintah Mamah.” Ibu Nani menghela napas pelan, lalu menyesap tehnya. “Iya, Sayang,” jawabnya tenang. “Tapi Mamah justru khawatir.” Tasya menoleh. “Khawatir apa?” Ibu Nani menatap lurus ke depan, wajahnya berubah dingin. “Mamah takut Alif… si bodoh itu malah ikut terpengaruh oleh istrinya.” Ia menepuk meja pelan. “Ja

