SEASON 3 // Bab 71

2162 Words

DI TEMPAT BERBEDA — DI SEBUAH CAFE. Sore itu café terasa tenang. Lampu kuning hangat memantul di permukaan meja, sementara suara sendok dan gelas terdengar samar di antara percakapan pelanggan lain. Diki duduk berhadapan dengan Anita. Wajahnya berbinar—senyum itu bukan senyum biasa, tapi senyum seorang lelaki yang menunggu sesuatu bertahun-tahun lamanya. “Jadi... kamu ngajak Abang ketemu buat ngomongin ini?” suara Diki bergetar bahagia. “Karena kamu udah siap Abang lamar?” Anita mengangguk pelan sambil menatapnya dalam-dalam. Senyum lemah tercetak di bibirnya—senyum manis… tapi matanya menyimpan sesuatu yang sulit dibaca. “Iya, Bang. Anita serius. Anita mau ngomong kalau Anita udah siap buat dilamar.” Diki langsung menunduk, menutupi wajahnya sebentar. Tangannya menggenggam era

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD