Saat sampai di taman, Tania menyapu sekeliling dengan pandangan gelisah. Bara sudah tidak ada. Sely pun menghilang. Yang tersisa hanya Nita, duduk sendirian di bangku panjang, menunduk dengan tatapan kosong. Teman-teman yang lain sudah lebih dulu pulang—Sely memilih pergi karena Bara entah ke mana tak kunjung kembali. “Langsung cabut, nih?” tanya Rara ringan. Tania mengangguk pelan, meski pikirannya tak di situ. “Kayaknya iya… kita langsung pulang aja.” Namun dalam hatinya, pertanyaan itu terus berputar. "Mas Bara ke mana? Jangan-jangan… dia pergi sama Sely, si perempuan ganjen itu?" Perasaan tak nyaman merayap pelan di dadanya. “Ya udah, ayo! Daripada bengong di sini,” ujar Rara bersemangat. Berbeda dengan Rara, Nita justru tetap diam. Tatapannya kosong, wajahnya m

