“Dokter Afgan,” panggil Kely. Tak ada jawaban. “Dok… halo, Dok?” panggilnya lagi. Tetap hening. Kely menyipitkan mata. Ia melihat Dokter Afgan berdiri terpaku setelah selesai memeriksa Rayan, tatapannya kosong entah ke mana. Dengan ekspresi datar, Kely melambaikan tangan di depan wajah sang dokter. Masih tidak bereaksi. “Sepertinya dia sudah tertular hobi bengong kamu, sayang,” celetuk Rayan sambil cengengesan. Kely mendengus kesal. Tanpa aba-aba, ia menepuk punggung Dokter Afgan cukup keras. “Eh—aduh!” Dokter Afgan tersentak. “Sakit, Non! Ada apa? Apa Anda butuh bantuan?” Ia meringis sambil mengusap punggungnya yang terasa panas. Rayan langsung tertawa terbahak-bahak. “Hati-hati, jangan banyak ketawa,” tegur Kely cepat. “Nanti jahitannya lepas.” Rayan refleks memeg

