DI RUMAH SAGARA Waktu menunjukkan pukul 09.00 malam. Di kamar, suasana begitu hening. Hanya terdengar desahan kecil dari Sagara yang meringis kesakitan. Alana duduk di tepi ranjang, sibuk mengobati luka di wajah suaminya yang babak belur. “Awww! Ssstttt... aduh, aduh! Pelan-pelan, Alana, sakiiit!” keluh Sagara sambil meringis kesakitan, tangannya refleks memegang pipinya yang bengkak. “Iya, Maaas... ini juga Alana udah pelan-pelaaan,” balas Alana lembut, berusaha hati-hati meski wajahnya tampak khawatir. Ia meniup pelan luka di pipi Sagara, seolah rasa sakit itu bisa hilang begitu saja. "Awww! Ssstttt... aduh, aduuuh! Enggak mau, enggak mau, ah! Mas enggak kuat, sakit!” rintih Sagara lagi, wajahnya meringis konyol seperti anak kecil. "Iya, Mas, Alana juga tahu! Sakiit, pe

